LOADING

Type to search

Dapur Hantu dan Peluang Bisnis Kuliner Pasca Corona

COLUMN FEATURED

Dapur Hantu dan Peluang Bisnis Kuliner Pasca Corona

INCOTIVE 22/04/2020
Share

Teks oleh Alfan Atharik
Ilustasi oleh Rafii Mulya

“UMKM gulung tikar, tidak ada instastory di cafe kenamaan dan hancurnya budaya kopi senja.”

Era peperangan antara bangsa-bangsa dengan si kecil bernama Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) berdampak pada banyaknya jumlah colaterall damage. Dari hal esensial seperti mayoritas masyarakat kehilangan pendapatan primer, ekonomi negara melemah, bla bla bla. Kita bisa membuat buku tentang korban-korban peperangan ini.

Dari berbagai kerugian yang dialami tiap pihak, sangat tidak adil untuk mengurutkan kesedihan siapa yang paling pilu. Akan tetapi secara ekonomi, industri yang mendapat tabrakan paling keras adalah sektor pariwisata dan kuliner. Sebagai salah satu penggemar kuliner, saya selalu membayangkan, “Ini orang gimana bayar sewa rukonya ya?” “Kalo sayurnya gak abis, ini gak bakal rugi apa?” “Gak kebayang ini orang minjem berapa duit ke bank, tempat enak begini harga miring begitu.”

Saya sering membayangkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu saat pra-Covid19, lalu sekarang jawabannya diberi sejelas kristal “Orang tidak akan bisa bayar sewa ruko, orang akan merugi dan orang masih belum kebayang cara bayar hutang ke bank yang jatuh tempo bulan depan” Ini semua kurang lebih karena ulah si kecil Covid-19.

“In the midst of chaos, there is also opportunity” – Sun Tzu

Filsuf dan Penulis yang hebat adalah ketika kalimat mereka masih tetap relevan hingga tahun 2020 ini. Di tengah kekacauan, banyak sekali pihak pihak yang secara default akan mendapat keuntungan besar, seperti pemilik pabrik masker dan pembersih tangan. Tetapi ada pula pihak yang oportunis dan secepatnya banting setir ke quote on quote, Entrepreneurship. Pastilah ada teman kalian yang meraup cuan dari jualan masker dengan varian jenis dan pembersih tangan dengan harga kurang ajar. Kudos to them tapi saya sendiri tidak tertarik ke kapitalisme instan seperti itu, saya lebih memihak ke pihak industri kuliner kreatif.

Industri Kuliner yang umumnya tertembak mati karena biaya operasional dan pemasukan yang nihil dipaksa kreatif. Arief Muhammad misalnya mempromosikan restoran AYCE yang bisa dibawa kerumah, Moguri yang menjual Corndog mentah dan Makna Coffee yang semakin agresif menjual botol 1 liter. Model bisnis semakin dimodifikasi agar menyesuaikan dengan the new normal.

Model bisnis yang semakin sering ditemukan adalah Ghost Kitchen atau terjemahan secara langsungnya adalah dapur hantu lah ya. sudah sering melihat Instastory teman-teman yang masak-masak lalu menjual panganannya via daring bukan? Kurang lebih itu konsep Ghost Kitchen di mata saya. Dapur dimana, pesan dimana, makan dimana. Kebalikan konsep dari restoran dine-in. Sedangkan menurut pendapat yang lebih ahli yaitu,

“A ghost kitchen is simply a commercial kitchen that operates for customers who aren’t dining in the same location as the kitchen.” — Jordan Fraser

“A ghost kitchen is where virtual brands are produced without a brick and mortar location, Their facilities that are made solely for producing virtual brands.” — Eric Greenspan.

“A ghost kitchen is a professional food preparation and cooking facility set up for the preparation of delivery-only meals.” — Wikipedia.

Banoffee yang dijual oleh teman kalian ataupun dimsum frozen yang tersebar di akun food blogger merupakan contoh nyata dari Ghost Kitchen, walaupun dalam skala kecil. Sebenarnya fenomena ini memang mulai berapi-api sejak tahun lalu dan Covid-19 menyulut api membara karena beberapa raksasa kuliner pun membelokkan setir untuk mengoptimalkan pemasaran digital dan jasa kurir antar.

Contoh level multi-nasional adalah Thomas Pamm, beliau adalah seorang franchisee dari The Halal Guys. Selain dari fenomena pengembangan, Pamm memikirkan fenomena ini dari sudut pandang cost-efficiency. Daripada membayar 500 ribu dolar untuk penyewaan tempat dan operasional, dia hanya menyewa dapur di Pasadena yang menyajikan food to go dan delivery ke pelanggan. Biayanya hanya 20 ribu dolar! lebih efisien dari brick and mortar restaurant dong? Jauh banget. Rumus mudah menghemat 480 ribu dolar yang pasti ditilik banyak orang, dari UMKM sampai raksasa kuliner.

Kita tarik benang merahnya, sederhana sekali. Corona membuat kita harus terkurung dalam rumah sehingga tidak bisa ke kedai kopi terkini di @gemarngopi-nya Tante Yanty ataupun kafe yang hits di @duniakulinerbandung. Sementara tuntutan laparnya mata akan makanan enak, lucu dan instagrammable tetap tinggi. Gimana dong kalo mau makan enak? ada dua cara, yaitu memasak sendiri ataupun membeli makanan via online. Yang masak sendiri pun kalo oportunis dia jual juga. Somehow someway konsep Ghost Kitchen semakin relevan dong.

“Justru momen seperti ini kita harus mencari peluang menuju the new normal.” — Sandi Uno.

Figur yang sedang bergerilya dengan nama dan ideologi yang memihak sisi muda dan kreatif mengucapkan kalimat yang membuat saya berpikir. “After covid, the now normal will be different from the normal we had months ago” Akan seru membahas segala kemungkinan dari beberapa aspek. Dari segi kuliner, orang akan ingin makan secepat dan semudahnya. Kompleksitas kehidupan metropolis yang fast-paced pun membuat makan bukan menjadi kebutuhan primer. Sudah berapa banyak katering dengan virtual brand mendapatkan pelanggan di Jakarta? Ghost Kitchen for you.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *