LOADING

Type to search

Peran Micro-gigs Dalam Industri Permusikan Bandung

COLUMN

Peran Micro-gigs Dalam Industri Permusikan Bandung

Abyan Hanif 04/07/2018
Share

Micro-gigs mungkin sudah tidak asing lagi bagi para penggemar dan penikmat musik di Indonesia, khususnya di Bandung. Dengan adanya micro-gigs dapat menjadi sebuah ajang untuk mempertemukan band–band entah itu band kemarin sore atau band senior dalam ajang-ajang pertunjukan kecil–kecilan dengan para penikmat musik yang ingin memuaskan dahaga mereka dengan menonton pertunjukan band. Micro-gigs sendiri juga bisa menjadi sebuah indikator tingkat ketertarikan masyarakat terhadap musik di suatu daerah, contohnya jika micro-gigs di sebuah kota selalu menarik banyak massa maka di kota tersebut bisa dikatakan masyarakatnya memiliki respon yang positif terhadap perkembangan musik di kota tersebut.

Selain itu micro-gigs juga akan sangat menguntungkan untuk band-band pendatang baru sebagai ajang untuk menunjukan eksistensi diri. Namun, saya merasa bahwa micro-gigs akhir-akhir ini terasa terus mengalami kemunduran. Alasanntah itu karena kurang menarik, artisnya yang itu-itu saja, atau hal-hal lainnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan dengan semakin mundurnya micro-gigs yang ada malah semakin lama micro-gigs sendiri akan mati. Untuk memulai tulisan ini mari kita mulai dari “Apa itu Micro-gigs?”.

Micro-gigs sebenarnya adalah acara musik kecil-kecilan yang biasanya dibuat oleh sekelompok anak-anak muda pecinta musik. Perbedaan antara micro-gigs dengan acara musik lainya yang paling mendasar adalah ukuran, seperti panggung yang seadanya, massa yang datang juga tidak terlalu banyak, dan band-band yang tampil juga biasanya band-band baru atau underdog, tidak seperti gigs besar yang selalu diisi oleh band-band papan atas industri.

Sejarah micro-gigs di Bandung

Setelah membaca artikel yang ditulis oleh Idhar Resmadi yang berjudul “Grunge is Dead: Tentang Skena Grunge di Bandung” bahwa skena grunge merupakan cikal bakal dari skena – skena musik yang ada saat ini. Pada tahun 1990-an skena grunge tersebut sering mengadakan acara musik di Yenua Legendaris, Bandung, yaitu GOR Saparua seperti Punk Rock Party, Gorong-gorong, dan lain-lain. Bukan tidak mungkin juga bahwa event-event micro-gigs di Bandung pada saat ini terinspirasi dari acara-acara musik pada tahun 1990-an tersebut.

Micro-gigs penting?

Jika ditanya apakah keberadaan micro-gigs tersebut penting atau tidak pasti saya akan menjawab bahwa seberapa pentingnya micro-gigs itu tergantung dari tujuan diadakannya micro-gigs itu sendiri dan pandangan kita terhadap event tersebut, seperti jika saya diberikan pilihan untuk membuat sebuah micro-gigs dengan tujuan untuk profit-oriented atau dengan tujuan untuk memajukan industri musik, saya akan lebih mengutamakan membuat micro-gigs dengan tujuan memajukan industri musik ketimbang dengan tujuan profit-oriented, karena menurut saya sendiri micro-gigs diadakan sebagai ajang kumpul-kumpul antara penikmat musik, pembuat musik, dan semua yang peduli terhadap insustri musik. Dengan begitu sangat diharapkan bahwa micro-gigs akan selalu hadir untuk memuaskan kuping para penikmat musik di Bandung.

Suasana penampilan Giant Step saat acara Cosmo Sound vol.1 

Regenerasi Musik di Bandung

Menurut wawancara singkat saya dengan Dwi Lukita dari Microgram Entertainment, Ia berpendapat bahwa micro-gigs sendiri memiliki peran yang sangat penting terhadap regenerasi musik di Bandung, “musik” di sini bukan hanya merujuk kepada band-bandnya saja, tetapi juga kepada faktor-faktor pendukung “musik” itu sendiri seperti sound engineer, brand clothing, visual artist, hingga record label. Dengan adanya micro-gigs ini diharapkan bisa menjadi ajang untuk berkumpulnya faktor-faktor pendukung musik tadi yang mungkin akan memudahkan mereka untuk bekerja sama membuat sesuatu yang baru di masa yang datang nanti. Namun pada kenyataannya justru dengan adanya micro-gigs malah membuat musik di bandung menjadi stagnan, karena band-band yang tampil dan faktor-faktor pendukung musik yang itu-itu saja sehingga tidak menunjukan adanya regenerasi.

Mengutip perkataan dari kolega saya di Incotive yaitu Defta Ananta dalam tulisannya yang berjudul “Konspirasi Pertemanan & Regenerasi Ekosistem Industri Musik”. Ia berpendapat bahwa permasalahan mendasar yang terjadi dalam ekosistem industri musik di Bandung adalah adanya sekat kultural. Sekat kultural ini menghasilkan adanya suatu keberpihakan yang didasari oleh subyektivitas pertemanan sehingga menyebabkan terhambatnya prose pembentukan sebuah ekosistem musik yang baru. Untuk mengatasi masalah tersebut, band-band baru harus memiliki pertemanan yang baik dengan media, EO, dll sehingga meningkatkan eksistensinya di dalam industri musik tersebut.

Hira sedang menghibur penonton saat acara Soft Sound vol.1

“Kemunduran” Micro-gigs?

Seperti yang sudah saya katakan di pengantar tulisan ini bahwa micro-gigs di Indonesia, khususnya di Bandung mengalami kemunduran. Saya merasa bahwa micro-gigs di Bandung mulai jarang diadakan, Namun Firman Triyadi dari Spasial mengatakan bahwa memang dalam menggelar micro-gigs ada “musim”nya sendiri, Ia mengatakan bahwa biasanya waktu – waktu ramainya event micro-gigs adalah pada kisaran bulan April (sebelum masuk bulan puasa) dan bulan November – Desember (akhir tahun) yang biasanya pada waktu – waktu tersebut bisa terdapat 3 – 5 event yang diadakan pada waktu yang bersamaan. Pernyataan tersebut mematahkan asumsi saya yang menyebut bahwa mulai jarangnya event micro-gigs di Bandung adalah sebuah kemunduran. Berdasarkan pernyataan Friman, memang ada “musim” ramai untuk menyelenggarakan micro-gigs di Bandung.

Permasalahan yang dihadapi Organizer

Kembali lagi ke hasil wawancara saya dengan Microgram Entertainment, Dwi Lukita mengatakan bahwa yang dialami dalam mengadakan micro-gigs dimana dewasa ini banyak micro-gigs yang hanya begitu-begitu saja, monoton, sehingga membuat para calon penonton merasa bosan. Belum lagi sekarang sudah era globalisasi yang membuat penyebaran informasi semakin cepat sehingga membuat orang-orang jadi mudah bosan. Dan lagi Bandung membutuhkan kuantitas micro-gigs yang lebih banyak, sehingga dapat menjaring band-band baru dengan kualitas yang mumpuni. Namun, dengan memfokuskan terhadap kuantitas jangan sampai kualitas micro-gigs dipandang sebelah mata, agar tidak banyak micro-gigs yang sekedar ada tanpa memperhatikan isinya. Para EO micro-gigs juga diharapkan untuk lebih aware lagi kepada peran micro-gigs ingin digunakan seperti apa, karakternya seperti apa, sehingga micro-gigs yang dihasilkan lebih jelas arahnya akan kemana. Apakah akan jadi micro-gigs yang santai atau ke yang lebih serius?

Masalah lain yang dihadapi micro-gigs menurut pandangan saya adalah micro-gigs menjadi terlalu eksklusif untuk kelompok tertentu, contohnya seperti sebuah kolektif A membuat sebuah micro-gigs yang diisi oleh band-band yang tidak lain dekat dengan kelompok A tersebut. Hal ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, tapi akan lebih baik lagi jika micro-gigs tersebut juga merangkul orang-orang lain di luar kelompoknya tersebut. Menurut Fajar Eka (Jarek) dari Spasial, ia berpendapat bahwa menyelenggarakan micro-gigs sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit, yang sulit adalah mencari pendanaan micro-gigs itu sendiri agar dapat terus berjalan secara rutin. Permasalahan lainnya menurut Jarek juga adalah untuk menghasilkan sebuah micro-gigs dengan karakter menarik, entah itu dari sisi pemilihan artis yang akan tampil hingga publikasi dari event micro-gigs tersebut. Sependapat dengan perkataan dari Jarek, Firman juga mengatakan hal senada tentang permasalahan yang dihadapi oleh Organizer dari event micro-gigs, yaitu sulitnya menggelar micro-gigs itu sendiri adalah bagaimana mereka mencari cara agar micro-gigs tersebut dapat berlangsung secara terus-menerus atau rutin diadakan. Hal tersebut menurut Firman semakin dipersulit karena kurangnya apresiasi dari para penonton micro-gigs, seperti contohnya adalah penonton ingin tiket micro-gigs murah, sedangkan untuk mengadakan event tersebut membutuhkan dana yang cukup besar. Ketika tiket mahal pun para penonton tersebut enggan untuk datang ke event tersebut.

Menurut saya sebagai penikmat musik, Micro-gigs merupakan salah satu event yang tidak bisa dipandang sebelah mata keberadaannya, Karena dengan adanya micro-gigs di Bandung dapat memberikan berbagai keuntungan, bukan hanya untuk para pelaku di industri musik seperti band, media, label, organizer tetapi menguntungkan juga bagi para penikmat musik seperti saya yang merasa konser musik adalah candu yang harus dipenuhi. Dengan adanya micro-gigs juga dapat menambah jaringan pertemanan entah itu antara band dan fansnya, label dan band, atau media dengan organizer micro-gigs. Dengan begitu, micro-gigs juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas industri musik di Bandung. Sekian pendapat saya mengenai fenomena micro-gigs yang terjadi di Bandung. Jikalau terkesan sedikit “sok tau” mohon dimaafkan karena saya hanya lah seorang penikmat musik saja, hehehe.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *