LOADING

Type to search

Prejudis dalam Perbedaan Generasi Penikmat Kultur Musik

COLUMN

Prejudis dalam Perbedaan Generasi Penikmat Kultur Musik

Ferdin Maulana 27/07/2017
Share

Ilustrasi oleh: Mutiara Fakhrani

Pada pertengahan Juli lalu saya berkunjung ke suatu reading cafe di Bandung, bersama seorang teman yang lahir pada generasi yang berbeda, saya masuk era sad boys bersama All Time Low sedangkan teman saya berjingkrak bersama Green Day. Setiba di sana kami takjub dengan suasana kayu minimalis yang memberikan kesan cozy dengan rak buku yang tersusun rapih. Saya memesan secangkir earl grey panas dan teman saya suka suatu yang unik, oleh karena itu ia memilih surrender to barista yang berarti ia akan meminum apa saja yang disajikan oleh barista.

Agar dapat menikmati rokok, kami memilih duduk diluar sambil membaca buku. Saya membawa buku terbitan pindai berjudul Antologi Prosa Jurnalisme, berisi kumpulan narasi jurnalistik seperti karya Cik Rini dan Zen RS. Teman saya membawa buku How to win friends and influence people karya Dale Carnegie. Cukup aneh bagi saya membaca buku tahun 1936 tentang psikologi-sosial di era yang sudah jauh lebih maju. Uniknya apa yang ada dibuku itu tetap relevan dengan zaman ini kata teman saya. Dari buku itu saya belajar bahwa selalu tersenyum dan sesimpel selalu mengingat nama orang yang anda temui dapat membuat anda disukai banyak orang.

Beberapa menit kemudian pesanan kami datang. Surrender to barista yang dipesan teman saya menghasilkan segelas butterscotch dingin. Saya perlahan menyeruput earl grey panas sambil membaca berita online, lagi-lagi judul artikel yang mengusung kata millenials. Melihat ini kami pun berbincang mengenai apa sebenarnya definisi dari kata millenials. Kami berdua risih dan merasa adanya konotasi negatif dalam sebutan anak millenials, kata yang populer bersamaan dengan kata netizen pada awal tahun 2016 ini. Dalam artikel yang ditulis Goerge Beall menjabarkan bila kata millenials ditujukan bagi mereka yang memasuki fase remaja di tahun 2000an bersamaan dengan makin canggihnya teknologi. Perbincangan dengan ilmu seadanya dan cocoklogi ala Indonesia mengantarkan kami pada kesimpulan bahwa media online Indonesia cenderung menyalahgunakan kata millenials sebagai sebutan generasi yang lahir di tahun 90 akhir, yang sering disebut generasi Z.

Obrolan kami berlanjut ke pembahasan lebih dalam mengenai adanya suatu stigma dimana beberapa kalangan generasi awal 90an atau generasi Y yaitu mereka yang memasuki fase young adult sekitar tahun 2010, terutama dari kalangan menengah atas di ibukota memandang bahwa generasi “millenials” adalah kumpulan bocah manja atau generasi yang lekat dengan budaya materialistis dan serba gampang. Saat generasi Y lahir dengan ponsel bata, generasi Z lahir dengan layar sentuh. Agar diskusi lebih sederahana, perspektif yang kami ambil adalah sisi penikmat kultur musik. Berdasarkan pengamatan kami berdua, penggaet musik awal tahun 2000 memandang bahwa generasi mereka merasakan apa itu struggle dalam mengapresiasi musik. Mereka sangat bangga bercerita soal sulitnya mencari album vinyl pisang sesepuh Andy Warhol, The Velvet Underground & Nico. Mendengarkan lagu pakai walkman dan hunting CD Smashing Pumpkins di Disc Tarra, nonton MTV di tv tabung, sampai hadir pada setiap gigs di Poster Cafe.

Satu jam berlalu sejak perbincangan komparasi generasi penikmat kultur musik. Saya bertanya darimana teman saya dapat menuduh beberapa kalangan dari generasi awal 90 ini memukul rata dalam menghakimi generasi akhir 90, terdengar hipokrit karena di lain sisi teman saya juga menghakimi kalangan tersebut. Teman saya bercerita bila ia berada dalam banyak lingkar pertemanan young adult dengan latar belakang yang variatif, namun setiap lingkaran ini memiliki kecendrungan menghakimi generasi akhir 90 akibat pride dan ego mereka. Sifat merasa lebih senior yang sudah menjadi kanker dalam lingkungan sosial Indonesia.

Tidak dapat disangkal sebagian dari generasi akhir 90 memang terjebak dalam hidup materialistis seperti menjadi budak merek, “you are what you wear“. Gaya hidup yang diusung genre musik masa kini jauh lebih penting daripada apresiasi karyanya. Mendatangi klub malam atau datang gigs musik underground hanya agar dapat pengakuan dari kalangan tertentu dan tidak sedikit dari mereka yang merasa paling pintar dan menganggap generasi di atasnya terlalu kolot.

Generasi akhir 90 juga tidak repot untuk mencari kaset album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band di pasar karena berbagai macam musik dapat mudah diakses lewat paket keluarga di Spotify. Di samping fenomena itu masih ada banyak yang hidup jauh di luar stigma tersebut. Sangat disayangkan adanya prejudis beberapa kalangan young adult yang memukul rata generasi akhir 90 sebagai kumpulan poser yang suka hambur-hambur uang orang tua. Meski berada dalam generasi serba mudah ini masih ada yang berjuang dalam mengapresiasi musik. Keterbukaan dan kemudahan tekonologi informasi di generasi ini bukankah membuat manusia bersikap lebih efisien? Sangat ironis adanya suatu generalisasi sebutan “anak millenials” yang memiliki konotasi negatif berkat penggiringan opini oleh beberapa media online Indonesia.

Setelah melewati banyak perbincangan teman saya mulai pusing dan saya lebih pusing. Kami berdua pemuda lintas generasi dengan ilmu seadanya sampai pada kesimpulan dimana beberapa kalangan dari generasi awal 90, khususnya dalam scene musik overdosis bangga dengan perjuangan masanya dan menilai generasi di bawahnya hidup terlalu mudah. Tapi bagaimana pandangan generasi 80an terhadap generasi 90an? Tidak menutup kemungkinan mereka memiliki prejudis yang serupa. Daripada terjebak megalomania atau berlebihan dalam membanggakan generasi masing-masing bukankah kita lebih baik menikmati perbedaan kultur musik pada setiap generasinya? Perbedaan yang mungkin 10 tahun kedepan akan menjadi kesulitan pada generasi berikutnya, Toh kultur itu selalu berputar.

Tags:

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *