LOADING

Type to search

Road to Lokatara Music Festival 2019 Berhasil Mengamplifikasi Beragam Emosi

EVENT FEATURED

Road to Lokatara Music Festival 2019 Berhasil Mengamplifikasi Beragam Emosi

INCOTIVE 25/09/2019
Share

Teks oleh Andi Basro
Foto oleh Valentinus Marchelle

Pada Hari Jumat lalu (20/9), saya berkunjung meliput acara yang diselenggarakan oleh Lokatara berkolaborasi dengan Menjadi Manusia, berjudul Road to Lokatara Music Festival 2019: “Maaf, Tolong, Terima Kasih” yang diadakan di Studio Palem Kemang, Jakarta.

Berdasarkan rundown, acara dimulai pukul 17:45, oleh karena itu saya harus jalan ke venue pada saat jalan Jakarta sedang dalam puncak kegilaannya. Lokasi acara yang rada blusukan membuat saya dikerjai oleh Google Maps. Apa daya, saya datang di akhir talkshow yang diisi oleh Baskara Putra dan Pamungkas.

Sekilas informasi, “Maaf, Tolong, Terima Kasih” adalah salah satu rangkaian acara untuk menyambut Lokatara Music Festival 2019, dengan line up yang terus di-update dengan komposisi musisi lokal dan internasional.

Acara diawali dengan talkshow berjudul “Menelirik” ditemani Coki Pardede dan Tretan Muslim sebagai moderator. Talkshow ini bertema seputar tema acara keseluruhan yaitu “Maaf, Tolong, Terima Kasih”. Sayangnya saya tidak bisa bercerita mengenai sesi yang diisi oleh Pamungkas dan Baskara sebelumnya.

Ketika giliran Iga Massardi, percakapannya sangat menarik. Iga bercerita, lagu Hagia terinspirasi dari Masjid Hagia yang ada di Turki, dimana masjid tersebut dulunya adalah sebuah gereja. Dalam lagu Hagia, Barasuara menceritakan keresahan mereka mengenai masalah toleransi di Indonesia yang tak usai-usai.

Lalu Coki bertanya perihal impact musik yang disajikan oleh Barasuara. Iga menjawab dengan menceritakan bagaimana istri temannya tidak bisa diselamatkan ketika melahirkan anaknya. “Taifun” menjadi lagu kesukaan almarhum istri temannya, lagu tersebut membantu temannya saat dia sedang berduka.

Iga berkata, memberikan impact kepada hanya kepada satu orang pun sudah cukup. Lalu Coki menyatakan poin yang sangat menarik, dimana semakin sukses seorang musisi, keresahannya semakin sedikit. Iga menanggapinya dengan poin, keresahan bisa di-trigger. Iga awalnya tidak memiliki keresahan terhadap lingkungan, namun dia memicu dirinya sendiri untuk resah dengan melakukan riset. Hasilnya lahir lah lagu “Guna Manusia.

Tretan Muslim dan Coki Pardede pantas untuk diberikan aplaus, karena mereka bisa jadi moderator yang bisa membuat suasana santai sekaligus memberikan pertanyaan yang dalam dan kritis. Tidak seperti talkshow-talkshow biasanya yang cenderung sangat membosankan.

Setelah break maghrib, acara dibuka oleh penampilan dari Pamungkas. Aransemen dia kali ini akustik, diatas panggung hanya ada dia dan pemain saxophone. Sebelumnya saya pernah menyaksikan Pamungkas sekali dan itu pun dari jauh. Kali ini saya menyaksikan dari dekat.

Pamungkas berhasil membuat orang-orang dalam venue yang galau menjadi tambah galau. Di lain sisi membuat pasangan-pasangan menjadi tambah mesra. Bahkan ada satu atau dua orang yang menangis. Kejadian lucu ketika di pertengahan set, Pamungkas berkata “gua gamau jadi sadboy” tapi musik dia sangat kontradiktif dengan pernyataannya.

Tak lama kemudian giliran Nadin Amizah untuk tampil. Jujur saya tidak familiar dengan musik dia selain lagunya yang berkolaborasi dengan Dipha Barus berjudul “All Good”. Saya sangat terkejut dengan penampilan Nadin. Kredit harus diberikan kepadanya karena berhasil menyajikan set musik yang sangat unik.

Dia membagi setiap lagu menjadi bab, total bab ada tujuh, berarti tujuh lagu. Sebelum mulai bernyanyi di setiap bab dia bercerita beragam hal, mulai dari persahabatan, patah hati, sampai perpisahan kedua orang tuanya. Nadin dan bandnya juga bisa menciptakan atmosfir yang sangat adem dan melankolis.

Studio Palem, venue yang seperti black box juga ikut menyumbang dalam membangun atmosfir tersebut. Karena visual dan lighting-nya terlihat lebih hidup dalam lingkungan yang sangat gelap. Stage presence Nadin bagus sekali, menari-nari dan selalu aktif berinteraksi dengan audiens. Setelah penampilan tersebut, Nadin berhasil membuat saya menjadi penggemar.

Setelah Nadin adalah musisi yang membuat saya sangat penasaran jika lagunya dibawakan live akan seperti apa. Sejak memutuskan untuk menggarap proyek musik solo, Hindia (Baskara) baru main live sebanyak tiga kali.

Hindia ditemani oleh wajah-wajah yang sudah tidak asing dalam dunia musik Indonesia. Ada Enrico Octaviano (drum), Natasha Udu dari Matter Halo (backing vokal), Petra Sihombing (gitar), Tristan Juliano dari Mantra Vutura, Rayhan Noor (gitar) dan Ikhsantama (synth dan Bass) dari Glaskaca.

Walau Baskara berkata “Kita baru main live tiga kali jadi maaf ya kalo banyak salah”, Hindia dan teman-temannya memberikan penampilan yang mantap. Seperti biasanya Baskara tampil live, vokalnya sangat kencang dan agresif dibandingkan rekaman studio.

Poin yang menjadi highlight set-nya Hindia adalah pada saat dia membawakan unreleased track, yang membuat penonton Lokatara menjadi sekelompok orang yang pertama kali mendengarkan lagu tersebut. Selain itu, lagu “Membasuh” dibawakan dengan instrumentasi yang berbeda dengan versi rekaman.

Masuk ke penghujung acara yang ditutup oleh Barasuara. Saya sempat heran karena Barasuara yang di-plot menjadi headline, justru memiliki crowd yang tidak sebanyak musisi-musisi sebelumnya. Dalam acara ini saya mengapresiasi Barasuara dengan cara yang berbeda. Biasanya moshing-moshing kecil ditambah crowd surfing, namun kali ini penonton cenderung lebih pasif. Mungkin harga tiket acara di luar kemampuan mayoritas sobat Penunggang Badai.

Terlepas dari itu saya tetap menikmati dengan sepenuh hati. Barasuara tidak pernah mengecewakan saat tampil live. Chemistry di antara personil dan interaksi mereka di atas panggung menular kepada audiens. Mereka terlihat sedang bersenang-senang, oleh karena itu saya juga ikut bersenang senang.

Barasuara membawakan semua lagu-lagu dari album “Pikiran dan Perjalanan” dari awal sampai akhir. Setlist-nya sangat menyegarkan untuk saya pribadi karena saya mulai bosan mendengarkan lagu-lagu dari album “Taifun” setiap menyaksikan mereka.

Secara keseluruhan Road to Lokatara Music Festival 2019: “Maaf, Tolong, Terima kasih” berhasil memberikan acara yang menyenangkan dengan pembawaan atmosfer dan emosi yang campur aduk. Dengan suksesnya penyelenggaraan acara tersebut, acara-acara Lokatara kedepannya terlihat menjanjikan.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *