LOADING

Type to search

Strategi Segar Musisi dalam Pahitnya Realita Industri

COLUMN FEATURED

Strategi Segar Musisi dalam Pahitnya Realita Industri

Ferdin Maulana 01/06/2019
Share

Ilustrasi oleh Pininta Taruli

“Memilih strategi yang tepat, atau berpegang teguh pada idealisme adalah pilihan dengan konsekuensinya masing-masing”

Banyak strategi untuk mendapat audience dalam industri musik tanah air tercinta ini. Rasanya sudah menjadi strategi yang membosankan melihat industri musik kita dipenuhi musisi-musisi cantik misal Raisa yang mewakili kolam besar, dan Cici Danilla yang katanya mewakili kolam kecil. Wanita-wanita cantik ini bernyanyi lagu sendu tentang cinta dan patah hati baik secara eksplisit, maupun implisit dengan lirikal yang sophisticated seperti senja atau distraksi.

Tidak kah kita jenuh melihat wanita-wanita “cantik” diobjektifikasi? Bahkan dikomodifikasi sebagai media darling yang sudah jadi konsumsi sejak masa kebebasan pers? Sebenarnya hal ini bukan hal baru, biarkan media mainstream mengambil peran yang sudah digandrunginya sejak lama itu, akan tetapi plis yang katanya media alternatif seharusnya menjauhkan musisi wanita bertalenta seperti Via (Heals), Fasya (Ping Pong Club), dan Fitri Wulandari (Apapun nama band-nya) dari pelbagai pertanyaan bak infotainmen televisi, seperti: “Kamu paling cantik kalau difoto tampak depan atau samping?” maupun headline Linetuday-core: “Ini dia 5 bassist wanita tercantik Indonesia”. Bung, hentikan penyebaran Bieberization of arts journalism dalam ranah media alternatif!

Dewasa ini ada strategi yang lumayan seger dengan cara kolaborasi, baik secara eksplisit seperti Grup Daramuda antara Danilla, Rara Sekar, dan Sandrayati Fay yang ingin mengintegralkan people power fanbase-fanbase budak kecantikan (kecantikan tidak hanya fisik loh ya, mba rara kepintarannya seksi). “Ini bukan lagu tentang hujan atau senja”, secara aransemen dan sound design memang lebih eksploratif dan dinamis tapi sejujurnya senja juga.

Lalu ada kolaborasi Axis antar Feast, The Panturas, dan Polka Wars, tapi Polka Wars layaknya Italia dalam Axis memilih jalannya sendiri, yaitu menjadi akun meme (Sebelum rilis album baru). Tujuan kolaborasi ini kurang lebih sama, yaitu penyegaran konten dan peng-integral-an fanbase militan yang serupa dan terbukti cukup sukses. Bukan hanya kolaborasi tradisional seperti manggung bareng, namun kerap kali adu lawakan lewat sosmed.

Sekali lagi! Rasanya cukup seksisme dan logika patriarki menyelimuti industri musik kita. Kesetaraan harus diterapkan! Kini giliran soloist cowo-cowo lembut nan colorful dengan estetika pallete dan highlight color vsco yang menceritakan kisah cinta layaknya seorang Bard pada abad pertengahan Britania. Soloist cowo dengan ciri-ciri tersebut sekarang sedang seksi boi! Kesuksesan Mac Ayres, Jeff Bernatt, Rex Orange County, Jakob Ogawa dan Cuco di pasar musik internasional adalah buktinya. Maskulinitas mulai tidak laku, Softboy dan Sadboi sedang on demand (Apalagi kalo ganteng).

Lewat strategi soloist cowo tersebut gimmick/personal branding sangat vital, mulai dari pemilihan fesyen, feed instagram, art cover, dan stage act harus dikonsep dengan kreatif dan konsisten. Di Indonesia sendiri strategi ini telah diterapkan oleh beberapa soloist seperti Ardhito Pramono, Pamungkas, Sal Priadi, dan Oslo Ibrahim. Saya sudah menonton mereka semua secara live dan satu pola yang selalu ada adalah suguhan stage act yang megah dan story telling yang captivating di setiap transisi antar lagu.

Ada pula strategi alternatif yang dapat diimplementasi oleh skena underground, yaitu dengan memanfaatkan modal kultural lewat komunitas dan kolektif yang supportif. Dengan strategi ini musisi atau band akan memiliki audience yang niche, tidak banyak namun loyal dan konsisten. Ekosistem akan berjalan sehat karena setiap orang merasa dilibatkan dan memiliki kedekatan langsung dengan musisinya. Strategi ini berjalan lurus dengan pemikiran sosiolog Howard Becker, dimana proses karya seni sangat bergantung oleh hubungan antar aktor di dalam komunitasnya. Lihat bagaimana Hindia membuat kalian semua merasa dilibatkan dalam pembuatan video “Secukupnya”.

Selain strategi yang sudah dijabarkan di atas, perkembangan digital dan tingginya konektivitas membuat informasi tidak ada habisnya (pull information) yang bisa diakses kapanpun merumuskan satu formula baru yaitu “JADIKAN BANDMU SEBAGAI PRODUK!”. Seperti dikutip dari Vulture, menjadi musisi tidak akan membuatmu kaya raya! Jadi bagi kamu remaja tanggung yang tidak ingin lanjut kuliah karena berharap jadi anak band tajir, silakan tenggelamkan mimpimu ke dasar laut. Mengapa? Banyak kakak-kakakmu di sini adalah saksi bisu bahkan korban pahitnya industri. Akan tetapi bukan berarti tidak mungkin kok, ada satu cara yaitu… “JADIKAN BANDMU SEBAGAI PRODUK!”.

Lewat strategi ini, apa yang harus kamu lakukan? Adding value terhadap bandmu serta rilisannya dengan pengonsepan isu, plan marketing dan branding yang visioner. “Produk” artinya sangat luas, influencer kesayanganmu itu juga produk kok. Rajin bikin konten! Layaknya geliat merek fesyen seperti Public Culture dengan isu “Dysfunctional Dystopia”-nya dan Woodensun dengan isu “Free Living Planet”-nya, maka bandmu sebaiknya melakukan hal serupa agar tetap relevan. Oleh karena itu pemanfaatan internet juga vital, maksimalkan sosmed kalian!

Contoh band yang melakukan strategi di atas adalah Feast yang sukses musiknya marketingnya melalui menejemen isu multiverse dan Beberapa Orang Memaafkan. Lalu, ada band surf-rock The Panturas yang sangat vokal produksi konten video Youtube serta optimalisasi Instagram Story oleh Abdullah (Bukan nama sebenarnya) agar fans merasa di-notice (fan service). Tidak hanya sampai di dua band tersebut, dari Kota Malang ada Coldiac yang lihai mengonsepkan visual color play lewat video musik dan feed Instagram untuk mencuri perhatian audience. Sampai di sini jangan sampai salah paham loh ya, musikmu itu tetap harus enak didengar mas, kalo tidak ya percuma marketingnya wah.

Untuk Yang Terhormat Ted Gioaia, mohon maaf om teori dan kritik konservatifmu itu sudah usang. Saya teringat seorang jurnalis musik barat yang pernah menuliskan “Someone has to make sense of the noise,” seseorang harus bisa merasionalkan suara, masa iya? HT. Silaen seorang antropolog dalam jurnalnya menuliskan bahwa pada hakikatnya musik berfungsi untuk mempengaruhi hidup manusia agar menjadi jadi lebih baik. Lewat musik yang baik perasaan dididik menjadi kritis, sehingga bisa membedakan yang merusak dan yang membangun.

Dengan mengapresiasi musik, manusia mampu memahami perasaan orang lain. Masih dalam jurnal HT. Silaen, musik sebagai karya kebudayaan seharusnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari keterkungkungan. Musik juga berfungsi sebagai kontrol sosial, dan menempatkan dirinya sebagai kritik sosial dalam mengungkap beragam persoalan yang terjadi di masyarakat, seperti pelanggaran hak asasi manusia serta ketidakadilan.

Ironisnya dewasa ini musik memang dangkal makna. Musik kini masih menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, namun hanya dianggap hiburan semata, sehingga rasanya tak perlu lagi musik dirasionalkan. Toh sekarang musik tak jarang hanya dipakai sebagai pemanis momen saja lewat algoritma dan playlist tastemakers layanan streaming sevice yang dipersonalifikasi, “Hujan di kamar tidurmu” dan segala tetek bengek lain-nya. Bebas dari keterkungkungan? Adanya kamu dipenjara oleh algoritma.

Berita musik tidak lebih dari segmen hiburan dalam kolom media. Jurnalisnya saja kelaparan, harus lagi dituntut membuat konsep tulisan avant-garde beserta pengetahuan teknis yang mumpuni? Keputusan yang bijak saya pikir saat Ryan Schreiber mengundurkan diri dari Pitchfork. Respon Mike Powell kepada Gioaia dan argumen Wendy Putranto terkait penulisan musik yang seharusnya fokus kepada pesan karya dan pemahaman audience dibanding informasi teknis pun tidak mampu menegasikan bahwa Bieberization of arts journalism memang sedang relevan dalam konteks pasar dan sosio-kultural mayoritas penikmat musik kita hari ini. Persetan lirik yang powerful, yang dibutuhkan pendengar adalah lirikal yang relatable dan mampu menyesuaikan suasana hati mereka.

Hallyu wave di Korea Selatan lebih cerdas membaca konteks pasar sekarang, musik beserta musisinya (idol) memang perlu dikomodifikasi jika ingin sukses secara nominal dan presensi dalam pasar. Tidak hanya dalam level individu maupun kelompok, bahkan negara termasuk aktor utama. Grup boy band Korsel seperti BTS saja dapat masuk menjadi cover majalah bergengsi dunia, Time, layaknya Presiden Jokowi yang merupakan seorang pemimpin negara.

Sumber: Time Magazine

 “Music is the mirror of reality” –Karl Marx

Menurut HT. Silaen terjadi pergeseran fungsional musik dari kebutuhan afektif manusia sehari-hari menjadi barang dagang yang habis pakai. Theodor Adorno dengan konsep culture industry nampaknya sangat menggambarkan industri musik kita hari ini. Adorno berargumen bahwa musik merupakan produk budaya yang akan selalu menjadi objek komodifikasi yang secara langsung dapat merubah esensi dari budaya tersebut. Komodifikasi yang dimaksud adalah adanya proses standarisasi dalam segi produksi yang berdampak pada pola konsumsi audience.

Konsep Adorno memang suatu paradoks karena pada satu sisi komodifikasi ini dapat mendangkalkan esensi berkarya yang tulus dan juga pesan inheren yang terkandung. Di lain sisi proses standarisasi dapat pula menambah value produk budaya tersebut. Hal ini dikarenakan dalam proses standarisasi harus ada semacam quality control, yang pada akhirnya dalam konteks musik memang subjektif dan “what’s on demand?” dalam pasar.

Menurut Guru Besar ITB Yasraf Amir, kondisi kebudayaan seni saat ini adalah dimana sistem dan logika ekonomi-industri membingkai logika kebudayaan dan seni. Dengan kata lain kini seni (termasuk musik) menjadi mesin untuk kegiatan ekonomi dan industri. Tidak usah muluk-muluk kritikus musik ternama, Karl Marx yang vokal soal seni dan Nietzsche yang mencintai musik pada level filosofis pun mungkin menangis dalam kubur melihat logika kapitalis meraja lela menistakan musik.

Menggabungkan beberapa pemikiran yang didasari dari hipotesis prophetic McLuhan “Medium is the Message”, ditambah konsep “Culture Industry” Theodor Adorno, lalu argumen Yasraf Amir tentang “Cara Berpikir Populer”, dan keluh kesah Mas Taufiq Rahman dalam tulisan “Musik Mati Meninggalkan Spotify”, dilengkapi “Pergeseran Fungsional Seni” HT. Silaen, pada akhirnya membawa saya pada konklusi dari analisa fenomena dimana industri (contoh: layanan digital streaming) mempengaruhi musik secara fungsional dan menyebabkan pergeseran pola konsumsi audience melalui cara berpikir populer yang cenderung dangkal dan berakar dari mob mentality (consumer society). Kebodohan ini kemudian dieksploitasi oleh para ikan-ikan besar industri dalam bentuk profit.

Jika bicara soal ekosistem musik kita, kondisi ekosistem musik sejak lama memang sudah korup dengan logika kapital. Intervensi korporat (misal rokok) dalam mengkomodifikasi musik misalnya. Dampaknya? Sesederhana dari bagaimana logika festival, pensi kampus, dan event organizer yang berorientasi profit lewat analisa data untuk menjawab “seberapa banyak pengunjung yang datang?” dalam memilih talent-nya.

Media musik kita juga monoton dalam produksi konten; jeplak press rilis lah, repost poster event barter logo lah, sudah tidak ada bedanya dengan buzzer. Masih mending para Selebgram yang di-endorse dapet bayaran, dibanding media cuma tuker logo. Ada pula media musik yang menjual cerita personal sang musisi yang tidak ada hubungannya dengan karya mereka.

Realita industri kita nyatanya pahit. Memilih strategi yang tepat, atau berpegang teguh pada idealisme adalah pilihan dengan konsekuensinya masing-masing. Namun yang terpenting adalah jangan takut berkarya! Nanti juga lo paham, katanya.

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

You Might also Like

1 Comments

  1. Budi Towel 03/06/2019

    Mantep anjeng

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *