LOADING

Type to search

Melalui “War In My Mind”, Loner Lunar Membahas Individualitas dan Konflik Batin

DAILY FEATURED

Melalui “War In My Mind”, Loner Lunar Membahas Individualitas dan Konflik Batin

Abyan Hanif 26/05/2019
Share

Which side of story, Should I even choose? Light side, Dark side, This is making me crazyLoner Lunar – War In My Mind

Konflik dan manusia merupakan dua unsur yang tidak akan pernah dapat dipisahkan. Konflik sendiri menurut teorinya adalah sebuah proses sosial antara dua orang atau lebih untuk menyingkirkan lawannya. Manusia sendiri merupakan sebuah makhluk hidup yang akan selalu berkonflik untuk bertahan hidup, entah itu konflik interpersonal atau pun konflik intrapersonal.

Konflik intrapersonal atau konflik dalam diri sendiri merupakan konflik yang paling lazim dijumpai oleh kita sebagai manusia. Contoh konflik internal paling mudah dijumpai adalah ketika kalian bingung untuk masuk kuliah atau tidak. Pada satu sisi kalian malas untuk bangun pagi dan jatah skip toh masih ada dua lagi, akan tetapi di sisi lain kalian merasa butuh materi baru menjelang UTS.

Konflik batin tersebut akan berlangsung cukup lama, hingga akhirnya niat kalian untuk berangkat kuliah sudah terkumpul, namun waktu sudah mepet dan ujung-ujungnya tidak jadi kuliah juga. Konflik internal seperti itu lah yang diangkat oleh Loner Lunar, band alternatif asal Bandung dalam single perdana-nya yang berjudul “War in My Mind”.

Menurut Emir Mahendra sebagai bassist dari Loner Lunar dan penulis lirik “War in My Mind” yang dikutip dari press release single perdana mereka, bercerita tentang konflik batin yang dialami oleh Finn di film Star Wars: The Force Awakens, ketika Finn bingung untuk memihak light side atau dark side.

Mengangkat tema tentang konflik batin dalam sebuah karya musik cukup rumit, oleh karena untuk membuat audience merasakan pesan yang terkandung dalam musik tersebut, perlu adanya trigger atau dorongan dari beberapa elemen; seperti aransemen, ritme, lirik, melodi, instrumentasi, dan struktur lagu yang baik. Tidak terkecuali proses mixing dan mastering yang matang. Untuk sebuah lagu yang membahas tentang konsep dasar manusia, wajib hukumnya untuk terasa megah.

Produksi-an single perdana Loner Lunar mengingatkan saya kepada album “Exquisite Corpse” milik Warpaint, oleh band yang digawangi oleh Emir Mahendra pada bass, Ivan Rifaldy pada gitar, Jasmine Ansori pada vokal, Julian Pratama pada gitar, dan Kevi Tumbuan pada drum dan dibantu oleh Wisnu Ikhsantama W. yang merupakan co-produser dari band-band seperi .Feast dan Glaskaca sukses mengantarkan pendengarnya untuk memahami apa yang mungkin mereka rasakan pada konflik yang ada di dalam diri manusia.

Penempatan vokal yang disajikan di depan dan instrumen lainnya mengiringi di belakang, seakan-akan merepresentasikan individualitas dari seseorang, tanpa adanya campur tangan dari orang lain. Suara bass yang samar-samar juga seakan membayangi dan mengelilingi orang tersebut sehingga memberi kesan penuh pada pendengarnya. Hal tersebut sukses membuat saya bergidik ketika pertama mendegarnya, berkat mixing-an dari Wisnu Ikhsantama W. dan mastering oleh Marcel James.

Kesan mengawang-ngawang juga sukses dihadirkan berkat sound gitar dengan delay dan suara dari synthesizer. Belum lagi vokal dari Jasmine yang menyentuh not-not pada lagu dengan baik yang membuat “War in My Mind” semakin menarik. Semua mantra ‘sihir’ tersebut diracik pada tiga lokasi berbeda yaitu, Soundpole Studio, Sumarsana Recording Chamber, dan FM Studio.

Musik yang bermakna dalam pun akan terasa percuma, jika dipadukan dengan lirik yang asal-asalan. Lega rasanya saat Loner Lunar berhasil menghadirkan lirik yang bermakna dalam namun mudah untuk dimengerti. Lirikal yang dituliskan simpel dan to the point, tanpa diksi-diksi rumit yang membuat lirikal seakan menarik.

Lirik seperti I feel like there’s an apocalypse, Going on my head, I can’t help it sudah cukup untuk menggambarkan keadaan seseorang yang sedang kebingungan dengan pikiran di kepalanya, ditambah lagi dengan lirik Which side of story, Should I even choose? Light side, Dark side, This is making me crazy semakin memperjelas akan bentroknya dua pilihan di dalam pikiran yang menyebabkan orang tersebut menjadi gila sendiri, dan I’m daydreaming again, Under the dark empty space seakan menegaskan bahwa orang tersebut yang membuat konflik dan hanya dia yang bisa menyelesaikannya.

Secara garis besar, saya sangat menikmati single “War in My Mind” dari Loner Lunar, perpaduan antara musik yang atmospheric dengan lirik yang simple, akan tetapi langsung “kena” sangat cocok dengan konteks yang di angkat Loner Lunar pada lagu tersebut. Seakan-akan kontras antara musik dengan musiknya membisikan pesan bahwa “nentuin pilihan gausah dibawa pusing lah bro, santai aja”. Belum lagi segi produksian dan pengemasannya yang sangat matang sehingga menambah poin plus untuk single perdana mereka ini.

Loner Lunar mempadukan elemen-elemen yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu aransemen, ritme, lirik, melodi, instrumentasi, dan struktur lagu sukses menjadikan “War in My Mind” menjadi karya bunyi yang mewah. Good job Loner Lunar, ditunggu lagu yang lainnya!

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *