LOADING

Type to search

“White Tulips” Pengiring Episode Melankolia ala Berthcaves

DAILY FEATURED

“White Tulips” Pengiring Episode Melankolia ala Berthcaves

Janji Syahzar 12/05/2020
Share

Masa karantina yang belum kunjung usai ini lumayan membuat saya rindu akan suasana gigs. Apa yang lebih baik dari berdesakkan dengan ratusan orang asing selagi terpapar volume suara di ambang batas aman pendengaran manusia? Sulit rasanya menemukan sensasi serupa di dalam rumah. Ah, saya hanya bisa mengingat kembali gigs terakhir yang saya hadiri. Sebelum diterapkannya pembatasan sosial ini, saya sempat datang ke acara peluncuran EP solois asal Cijerah, Ray Viera Laxmana. Peluncuran EP tersebut turut dimeriahkan oleh beberapa musisi Bandung. Di perhelatan tersebutlah saya pertama kali menyaksikan penampilan Berthcavés.

Saat itu, duo shoegaze/ambient pop ini tampil bersama Dwantra. Saya sempat terheran-heran melihat format penampilan tersebut. Bagaimana tidak? Mereka tampil menggunakan track pengiring tanpa menggunakan tempo guide. Absennya tempo guide dapat membuat tempo permainan dan track pengiring menjadi tidak sinkron. Terlepas dari luputnya tempo lagu, penampilan tersebut berlangsung lancar. Limitation breeds creativity, right? “White Tulips” yang dibawakan paling akhir pun menjadi sorotan saya. Beberapa penonton yang sebelumnya bersosialisasi dengan ceria berubah diam, khidmat mendengarkan penutup penampilan Berthcavés.

Awal Mei lalu, Berthcavés akhirnya resmi merilis “White Tulips.” Proses mixing dan mastering dilakukan oleh Virza A Susilo. Dwantra juga kembali sebagai featuring artist. Seperti yang saya ingat, lagu ini memiliki nuansa melankolis yang sangat kental. Suara gitar tipis yang menggema memenuhi lagu ini. Vokal ala pop yang mengalun bercerita tentang keinginan seorang tokoh untuk menemani orang terdekatnya. Tema yang sangat ringan ini disebut mengambil inspirasi dari puisi berjudul “Tulips” karya Sylvia Plath. Selain itu, tak banyak yang bisa diceritakan tentang lirik elementer ini.

Seperti lagu ambient pop lainnya, kekuatan utama “White Tulips” terletak pada nuansa yang dimuatnya. Menurut saya, lagu ini berhasil menjadi pengiring episode melankolia yang baik. Hari saya terasa melambat, seperti terseret suasana kelam dan sedih yang dimiliki lagu tersebut. Berthcavés dapat memicu perasaan yang kompleks lewat lirik dan aransemen sederhana.

“White Tulips” adalah bukti bahwa sebuah karya tidak membutuhkan banyak notasi dan progresi kompleks untuk dapat menjadi moodsetter bagi pendengarnya. Fakta bahwa lagu ini merupakan rilisan kedua dalam diskografinya menunjukkan ini baru permulaan dari perjalanan musikalitas Berthcavés. Berkat “White Tulips,” perjalanan tersebut tampaknya menjadi hal yang menarik untuk kita ikuti.

Tags:
Janji Syahzar

Mencoba menjadi penikmat musik yang apresiatif. Produser dan pemain bas Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *