LOADING

Type to search

Kuasa, Ekspresi Keresahan yang Hambar dari Zirah

DAILY FEATURED

Kuasa, Ekspresi Keresahan yang Hambar dari Zirah

INCOTIVE 10/10/2019
Share

Teks oleh Andi Basro

Berawal dari pusaka minyak tawon dalam “Pusaka Pertiwi”, pertanyaan atas kemerdekaan yang dilontarkan di “Merduka”, dan pencarian jati diri lewat “Siapa Kamu?”, pada 4 Oktober lalu, band rock asal Jakarta, Zirah menyampai kan kritik atas orang-orang dengan privilese kekuasaan yang suka bertindak sewenang-wenang melalui single terbarunya berjudul “Kuasa”.

Kali ini Zirah mengangkat tema mengenai keresahan dalam dunia kerja. Alyssa Isnan (vokalis) menulis lagu ini berdasarkan pengalamannya saat baru pertama kali masuk ke dunia kerja. “Gue pernah mencoba bekerja di bagian administrasi sebuah perusahaan tanpa pengalaman di bidang terkait. Karena ketidaktahuan gue terhadap apa aja yang harus dilakukan sebagai administrasi, gue berusaha mewajarkan segala perintah yang terkadang gak masuk akal dan last-minute. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, semuanya semakin lama semakin gak masuk akal.” Pungkasnya.

Isu yang diungkit oleh Zirah sangat relatable, terutama bagi para mahasiswa yang semakin mendekati kelulusan dan takut dengan dunia setelah perkuliahan usai, dan lewat “Kuasa” Zirah memberikan cuplikan pengalaman menjadi seorang fresh graduate.

Keresahan dalam dunia kerja juga akan menyentuh banyak orang, karena tidak semua orang menyukai pekerjaan mereka. Membahas soal permasalahan sehari-hari akan terasa lebih personal, contoh, jika suatu band liriknya politis sekali, belum tentu pendengarnya dapat merasakan pesan yang coba disampaikan oleh band tersebut.

Dari segi musikalitas, dalam lagu “Kuasa” riffs-nya berat seperti Black Sabbath. Lagunya sangat mudah untuk dinikmati karena sound yang disajikan oleh Zirah sudah tidak asing lagi di telinga. Mereka mengingatkan saya kepada unit punk Jepang bernama Otoboke Beaver, empat wanita nyentrik yang memainkan lagu keras, walau sound dari kedua band ini sangat berbeda.

Kekurangan dari lagu ini sangat krusial dan memiliki dampak yang signifikan, yakni pada vokal dan drum. Permainan drumnya lemas sekali, jadi kontradiktif dengan instrumentasi gitarnya. Gitarnya berat dan agresif, namun drumnya sangat loyo. Dalam musik keras, menciptakan sebuah lagu yang bagus, permainan drum tidak harus kompleks. Sampai sekarang band-band punk dan hardcore, drum hanya memainkan d-beat berulang kali, tapi dengan semangat yang menular kepada para pendengar.

Di sisi lain, gaya vokal terdengar datar dan tidak berkarakter. Alyssa menceritakan keresahan dalam pengalaman pribadinya, namun saya tidak merasakan keresahan tersebut dalam nyanyiannya. Nyanyian-nya kurang nendang, terutama untuk suatu band yang memainkan musik rock. Vokal Alyssa terdengar seperti teman yang ikut karaoke tapi malu-malu untuk bernyanyi dengan lepas.

Pada akhir kata, Zirah memiliki potensi yang sangat besar, membandingkan mereka dengan Otoboke Beaver adalah suatu komplimen dari saya. Kita hanya bisa berharap setelah “Kuasa”, Zirah akan terus berkembang dan melakukan eksplorasi dalam proses bermusik mereka.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *